10 Orang Gagal Angkat Patung Misterius di Rumah Raden Saleh
Sebuah patung setinggi 160 sentimeter tanpa nama, tanpa pembuat, dan tanpa catatan sejarah jadi teka-teki di tengah proyek restorasi senilai Rp 37 miliar.
Ada satu benda di rumah Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat, yang membuat pekerja restorasi berhenti sejenak: patung seorang ibu menuntun anaknya, tinggi lebih dari 160 sentimeter, yang menurut cerita pengelola pernah diangkat sepuluh orang sekaligus dan tidak bergeser satu sentimeter pun. Patung itu berdiri di ruangan lantai dasar, di sisi kiri pintu utama, dekat jendela dan pintu belakang.
Yang bikin penasaran bukan cuma beratnya. Tidak ada yang tahu siapa pembuatnya, dari bahan apa, kapan dibuat, atau apa judulnya. Pengelola bangunan mengaku belum menemukan catatan sejarah apa pun soal patung tersebut, seperti diberitakan detikProperti. Di rumah yang tiap jengkalnya sudah didokumentasikan tim konservasi, satu objek sebesar manusia justru lolos dari daftar.
Cerita itu muncul di tengah pekerjaan besar: restorasi rumah yang dibangun pada 1852 ini menelan biaya sekitar Rp 37 miliar, dimulai November 2025 dan ditargetkan rampung November 2026. Buat warga Jakarta, ini bukan sekadar kabar mistis. Bangunannya berstatus cagar budaya dan direncanakan terbuka untuk publik setelah pugar selesai.
Patung yang Tak Punya Catatan Apa Pun
Sosok ibunya sedikit membungkuk, kedua tangannya menggenggam lengan si anak yang terangkat. Keduanya menunduk. Kainnya berwarna keemasan dengan lipatan yang rapi, warna kulitnya lebih gelap, dan permukaannya halus saat disentuh, mirip porselen yang lama berdebu. Dari penampilan saja, patung itu jelas bukan pajangan murahan yang ditaruh belakangan.
Empat hal yang sampai sekarang belum terjawab soal patung ini:
- Siapa perupa atau pabrik yang membuatnya
- Bahan pastinya: batu, gips berlapis, atau keramik
- Tahun pembuatan dan kapan masuk ke rumah itu
- Apakah ia bagian dari koleksi asli pemilik pertama
Apa yang Sedang Terjadi di Rumah Raden Saleh
Aset rumah ini dipegang Yayasan Kesehatan PGI Cikini, dan pekerjaan konservasinya dipimpin arsitek konservasi Arya Abieta dengan dukungan Pemprov DKI Jakarta. Targetnya bukan sekadar mempercantik, tapi menguatkan struktur berumur lebih dari 170 tahun agar aman dipakai orang banyak.
Rp 37 Miliar, dan Apa yang Belum Masuk Hitungan
Angka Rp 37 miliar itu baru untuk pekerjaan fisik bangunan. Furnitur, pendingin udara, dan instalasi listrik belum dihitung di dalamnya. Artinya, total biaya sampai rumah ini benar-benar siap menerima pengunjung hampir pasti lebih besar. Kontraktor yang mengerjakan adalah Decorient, dengan sekitar 100 pekerja di lokasi.
Retak, Lapuk, dan Getaran dari Sebelah
Kondisi awalnya berat. CNN Indonesia mencatat kolom kayu di sisi selatan retak sampai harus ditopang, fasad retak dari rambut halus sampai dalam, cat mengelupas, lantai kayu jati di lantai dua lapuk, dan plafon rusak karena bocor. Rangka baja dipasang untuk menahan kerusakan lanjutan sekaligus meredam getaran dari pembangunan di sekitarnya. Pada 2023, Kompas.com sudah melaporkan tangga lapuk dan plafon jebol di bangunan yang sama.
Kenapa Tenggat November 2026 Terasa Ketat
Dua belas bulan untuk bangunan cagar budaya itu jadwal yang padat. Pekerjaan pugar tidak boleh mengganti material sembarangan; kayu, kusen, dan detail asli harus dipertahankan atau direplikasi sedekat mungkin. Pintu kayu buatan Raden Saleh sendiri disebut masih kokoh, jadi tugasnya merawat, bukan mengganti. Satu temuan tak terduga di dinding atau pondasi bisa menggeser jadwal berminggu-minggu.
Kenapa Cerita Mistis Malah Berguna di Proyek Tua
Gomar Gultom, COO PT Oikohugis Fortuna Properti, menanggapinya santai: bangunan setua ini memang selalu punya cerita. Ia meminta para pekerja menjaga sikap selama bekerja di dalam rumah. Sampai laporan itu terbit, tidak ada kecelakaan kerja yang tercatat di proyek tersebut.
Terdengar seperti urusan klenik, tapi efek praktisnya nyata. Di proyek cagar budaya, aturan tak tertulis "jangan sembarangan pegang, jangan sembarangan pindah" persis sama dengan prosedur konservasi: setiap objek harus didata, difoto, dan dinilai dulu sebelum digeser. Patung yang tidak jadi dipindahkan justru selamat dari risiko retak atau hilang.
Setelah Dipugar, Rumah Ini Mau Jadi Apa?
Rencananya, bangunan akan dibuka sebagai museum publik, dengan kemungkinan dipakai untuk pertemuan edukasi dan acara hiburan skala kecil. Bisnis.com melaporkan pada Juni 2026, dalam Jakarta Future Festival, muncul rencana menjadikannya function hall bertaraf internasional setelah pemugaran rampung.
Di sinilah bagian yang perlu diawasi. Fungsi komersial bisa membiayai perawatan jangka panjang, dan itu masuk akal untuk bangunan yang biaya rawatnya mahal. Tapi acara berkapasitas besar berarti beban lantai, getaran musik, dan lalu lintas orang di struktur kayu berumur 170 tahun. Keseimbangan itu yang menentukan rumah ini bertahan berapa dekade lagi.
Yang Perlu Anda Cermati Sebelum Berkunjung
Belum ada pengumuman resmi soal tanggal buka, harga tiket, atau sistem reservasi. Kalau Anda tinggal di Jakarta dan ingin melihat langsung, pantau kanal resmi Yayasan Kesehatan PGI Cikini dan Dinas Kebudayaan DKI menjelang akhir 2026. Satu hal kecil yang layak dicek saat pintunya akhirnya dibuka: apakah patung ibu dan anak itu masih berdiri di sudut yang sama, dan apakah papan keterangannya akhirnya terisi. Kalau iya, berarti tim konservasi menemukan sesuatu yang selama ini luput dari semua orang.
Comments 0