8 Bahasa Disebut, Bahasa Asing Kelas 1 SD Cuma Perkenalan
Presiden menyebut delapan bahasa dalam pidato kenegaraan, tetapi menteri pendidikannya memastikan anak kelas satu tidak akan mendapat mata pelajaran baru.
Rencana pemerintah soal bahasa asing kelas 1 SD ternyata jauh lebih ringan dari yang dibayangkan banyak orang tua sejak akhir pekan lalu. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan bahwa yang dimaksud bukan mata pelajaran baru, melainkan tahap perkenalan. Tidak ada buku tambahan, tidak ada jam pelajaran baru yang tiba-tiba muncul di jadwal anak kelas satu tahun ini.
Kehebohan bermula Jumat, 14 Agustus 2026, saat Presiden Prabowo Subianto berpidato di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. Ia menyebut delapan bahasa yang dinilainya penting dikuasai anak Indonesia: Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, dan Rusia. Alasannya sederhana, anak kecil menyerap bahasa jauh lebih cepat ketimbang orang dewasa.
Bagi orang tua, selisih antara dua kata itu besar sekali. "Diajarkan sejak kelas 1" terdengar seperti beban baru bagi anak yang bahkan belum lancar membaca. "Dikenalkan" berarti sesuatu yang jauh lebih longgar dan sangat bergantung pada kesiapan masing-masing sekolah. Dua hari kemudian, Minggu 16 Agustus, Mu'ti menyatakan usulan delapan bahasa itu baru akan dibahas di internal kementerian.
Apa yang sebenarnya diminta Presiden
Pidato itu bertumpu pada satu argumen: daya saing tenaga kerja. Kemampuan berbahasa asing dianggap pintu masuk ke pekerjaan yang lebih baik, termasuk peluang kerja di luar negeri. Isinya bukan hal baru bagi pemerintah, tapi menyebut delapan bahasa sekaligus dalam pidato kenegaraan membuatnya terdengar seperti kebijakan yang sudah matang dan tinggal dijalankan. Kenyataannya belum. Menterinya sendiri mengakui rencana itu masih di tahap pembicaraan.
Arti "pengenalan" pada bahasa asing kelas 1 SD
"Jadi yang dimaksud itu bukan bahasa dalam pengertian sebagai mata pelajaran khusus ya, tapi lebih pada pengenalan bahasa asing gitu, khususnya untuk yang SD," kata Abdul Mu'ti.
Kalimat itu memisahkan dua hal yang sering tercampur dalam pemberitaan: memperkenalkan bahasa dan mengajarkannya secara formal. Perkenalan tidak menuntut struktur, silabus, atau penilaian tersendiri. Ia bisa menempel pada kegiatan yang sudah ada. Sebagian sekolah, terutama swasta di kota besar, bahkan sudah lama menyediakan Mandarin atau Korea di jenjang lebih tinggi tanpa menunggu instruksi pusat.
Yang mungkin berubah di ruang kelas
Bentuk paling realistis adalah sapaan, nama benda, lagu, dan permainan singkat yang disisipkan guru kelas. Sifatnya menumbuhkan rasa akrab dengan bunyi bahasa asing, bukan mengejar kosakata dalam jumlah tertentu. Sekolah dengan guru berkemampuan bahasa akan bergerak lebih cepat, sementara sekolah lain kemungkinan besar tidak berubah sama sekali dalam waktu dekat.
Yang tidak berubah di daftar mata pelajaran
Karena bukan mata pelajaran khusus, tidak ada penambahan beban resmi di kelas satu dan dua. Struktur kurikulum SD tetap seperti sekarang sampai ada aturan baru yang diterbitkan. Jadi kalau ada pihak yang mengaku menjual paket wajib untuk memenuhi kebijakan bahasa asing kelas 1 SD, patut dicurigai, karena kewajiban semacam itu belum ada.
Yang sudah pasti: Inggris wajib mulai kelas 3
Ada satu kebijakan yang benar-benar sudah terkunci, dan justru itu yang paling berdampak. Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib di SD mulai 2027, dimulai dari kelas 3 sampai kelas 6. Kelas 1 dan 2 tidak diwajibkan. Menurut laman resmi unit Kemendikdasmen, dasar aturannya adalah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 yang dipertegas lewat Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.
Ini sekaligus koreksi arah yang panjang. Sejak Kurikulum 2013, Bahasa Inggris kehilangan status wajibnya di SD dan banyak sekolah menempatkannya sebagai muatan lokal atau ekstrakurikuler. Akibatnya kualitasnya timpang: ada anak yang sudah terbiasa sejak kelas satu, ada yang baru berkenalan di SMP. Di jenjang SMP dan SMA, Bahasa Inggris memang tidak pernah hilang sebagai mata pelajaran wajib.
Kendala terbesarnya bukan murid, tapi guru
Anak SD memang cepat menyerap bahasa. Yang lebih sulit disiapkan adalah orang dewasa di depan kelas. Guru kelas SD dilatih untuk mengajar hampir semua mata pelajaran, dan Bahasa Inggris bukan keahlian bawaan mereka. Kemendikdasmen menjawabnya dengan pelatihan bertahap; salah satu laman resminya menyebut 13.964 guru SD telah mengikuti peningkatan kompetensi Bahasa Inggris.
Angka itu terdengar besar, tapi Indonesia punya lebih dari seratus ribu sekolah dasar yang tersebar sampai pelosok. Artinya pelatihan masih harus berjalan bertahun-tahun sebelum merata. Menambahkan tujuh bahasa lain ke daftar, dengan kolam guru yang jauh lebih dangkal, jelas persoalan yang berbeda kelas kesulitannya.
Yang bisa dilakukan orang tua sekarang
Jangan buru-buru mendaftarkan anak kelas satu ke kursus berbayar hanya karena satu pidato. Belum ada kewajiban, belum ada ujian, dan biaya bimbel bulanan bukan pengeluaran kecil bagi kebanyakan keluarga. Yang lebih masuk akal adalah menyiapkan anak untuk hal yang sudah pasti datang pada 2027.
- Tanyakan ke sekolah apakah Bahasa Inggris sudah diajarkan dan siapa gurunya.
- Cek kesiapan sekolah menghadapi kewajiban mulai kelas 3 pada 2027.
- Pastikan kemampuan membaca Bahasa Indonesia anak kuat lebih dulu.
Yang perlu diikuti dalam beberapa bulan ke depan adalah hasil pembahasan internal Kemendikdasmen soal delapan bahasa tadi. Selama belum keluar aturan menteri yang mengubah struktur kurikulum, semua yang menyangkut bahasa asing kelas 1 SD masih berupa wacana, bukan kewajiban yang bisa dituntut dari sekolah atau dari anak Anda.
Comments 0