Air Tak Punya Kalori, Jadi Kenapa Minum Air Saja Gemuk?

Ketua HISOBI menegaskan air putih nol kalori, dan keluhan berat badan yang naik "tanpa sebab" hampir selalu berasal dari dua hal yang jarang dihitung orang.

Air Tak Punya Kalori, Jadi Kenapa Minum Air Saja Gemuk?

Kalau Anda pernah merasa minum air saja gemuk, ada kabar baik sekaligus kabar yang agak menohok. Kabar baiknya: air putih benar-benar tidak mengandung kalori, jadi secara biologis mustahil ia menambah lemak di tubuh Anda. Kabar yang menohok: kalau angka di timbangan tetap merangkak naik, penyebabnya ada di tempat lain — dan biasanya persis di tempat yang tidak pernah kita hitung.

Penjelasan itu datang dari Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), yang juga memimpin Divisi Metabolik-Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Menurut dia, keluhan semacam ini tidak bisa langsung dicap sebagai gangguan metabolisme atau kekacauan hormon. Kondisinya harus dilihat utuh, termasuk kebiasaan makan yang sering luput dari kesadaran orang yang mengalaminya sendiri.

Konteksnya membuat ini bukan urusan pribadi belaka. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 23,4 persen penduduk berusia 18 tahun ke atas menyandang obesitas, naik dari 21,8 persen pada 2018. Artinya kira-kira satu dari empat orang dewasa di sekitar Anda. Keluhan "minum air saja gemuk" jelas bukan cerita segelintir orang; ini keluhan berskala nasional yang selama ini dijawab oleh mitos, bukan data.

Yang Sebenarnya Terjadi Saat Minum Air Saja Gemuk

Tubuh bekerja dengan neraca sederhana: energi yang masuk lewat makanan dikurangi energi yang dibakar untuk bernapas, bergerak, dan mencerna. Air tidak menyumbang satu kalori pun ke sisi kiri neraca itu. Jadi ketika seseorang yakin sudah makan sedikit tapi berat badannya tetap naik, yang bergeser hampir selalu salah satu dari dua sisi tadi — dan pergeseran itu terjadi pelan-pelan, tanpa terasa.

Tiga Hal yang Sering Luput dari Hitungan

Dante menyoroti bahwa banyak pasien datang dengan keyakinan porsi makannya sudah kecil. Masalahnya, "porsi makan" dalam kepala kita biasanya hanya berarti nasi dan lauk di piring. Segala yang masuk di luar meja makan cenderung tidak dianggap makan sama sekali.

Camilan yang Tidak Pernah Dicatat

Ini poin yang paling ditekankan: orang sering tidak menghitung camilannya dengan benar. Gorengan sore di warung, es kopi susu setelah rapat, sepotong roti saat menunggu macet, teh manis yang otomatis disodorkan di kantor. Satu-satu terasa sepele. Dijumlahkan sepanjang minggu, angkanya bisa jauh melampaui defisit yang Anda kira sudah Anda bangun lewat makan siang yang "sedikit".

Massa Otot yang Menyusut Diam-diam

Sisi kedua neraca justru lebih jarang dibahas. Otot adalah jaringan yang aktif membakar energi bahkan saat Anda duduk diam. Ketika massa otot berkurang — kondisi yang dalam dunia medis disebut sarkopenia — tubuh jadi kurang efisien membakar kalori dan lemak, sehingga risiko obesitas naik. Karena itu dokter mengingatkan agar penurunan berat badan tidak sampai mengorbankan otot, yang juga menopang keseimbangan dan mencegah cedera seiring bertambahnya usia.

Faktor Genetik yang Bukan Alasan Menyerah

Dalam pemaparan lain yang dikutip Suara Surabaya, Dante menyinggung bahwa faktor genetik memang berperan. Merujuk temuan Human Genome Project, ada pola genetik tertentu yang membuat sebagian orang lebih mudah menimbun berat dibanding yang lain. Tapi genetik menjelaskan kecenderungan, bukan takdir — ia mengubah seberapa keras Anda harus bekerja, bukan apakah usaha itu akan membuahkan hasil.

Air Tak Punya Kalori, Jadi Kenapa Minum Air Saja Gemuk?

Angka Naik, dan Perempuan Paling Terdampak

Data SKI 2023 memperlihatkan jurang yang lebar antar-jenis kelamin: prevalensi obesitas pada perempuan mencapai 31,2 persen, sementara pada laki-laki 15,7 persen — selisihnya dua kali lipat. Kenaikan 1,6 poin persentase secara nasional dalam lima tahun terdengar kecil, tapi pada populasi ratusan juta orang, itu berarti jutaan penyandang obesitas baru yang bertambah sejak survei sebelumnya.

Kenapa Ini Bukan Sekadar Soal Penampilan

Inilah alasan HISOBI meluncurkan kampanye edukasi #BeraniBicaraBerat di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026. Dante menegaskan obesitas adalah penyakit kronis, bukan urusan estetika, karena di dalam tubuh yang obesitas proses peradangan terus berjalan diam-diam. Dari situ jalurnya bercabang ke gangguan jantung, diabetes, hingga risiko kanker. Suara Surabaya melaporkan Surabaya saja mencatat sekitar 112.000 kasus diabetes sepanjang 2025, dengan obesitas sebagai salah satu faktor utamanya.

Dante juga mengingatkan bahwa terapi obesitas tidak seragam. Ada yang perlu porsi makannya dikurangi, ada yang cukup camilannya dipangkas, ada pula yang butuh obat. Pilihannya ditentukan lewat pemeriksaan, bukan lewat tangkapan layar yang beredar di grup WhatsApp.

Jangan termakan hoaks di sosmed.

Langkah Praktis Sebelum Menyalahkan Metabolisme

Sebelum menyimpulkan metabolisme Anda rusak, ada beberapa hal yang bisa dicek sendiri dalam dua pekan ke depan:

  • Catat semua yang masuk mulut, termasuk minuman manis dan cicipan, bukan cuma makan besar.
  • Tambahkan latihan beban atau gerakan menahan berat badan dua kali seminggu untuk menjaga otot.
  • Ukur lingkar perut, bukan hanya menimbang badan — angka timbangan tidak membedakan lemak dan otot.
  • Kalau pola sudah rapi tapi berat tetap naik, barulah periksa ke dokter penyakit dalam, endokrin, atau dokter gizi klinik.

Yang perlu Anda pantau berikutnya adalah rilis survei kesehatan nasional selanjutnya, sekaligus apakah kampanye seperti #BeraniBicaraBerat berhasil menggeser cara orang Indonesia bicara soal berat badan — dari saling menyindir penampilan menjadi memeriksakan diri lebih awal. Sementara itu, teruskan minum air putih. Ia satu-satunya hal di daftar ini yang benar-benar tidak pernah jadi tersangka.