Memoar Sendiri Jadi Bukti di Sidang Pembunuhan Tupac Shakur

Juri di Las Vegas kini menimbang nasib Duane "Keffe D" Davis, pria yang cerita bukunya sendiri justru membawanya ke kursi terdakwa.

Memoar Sendiri Jadi Bukti di Sidang Pembunuhan Tupac Shakur

Hampir 30 tahun setelah tembakan dilepaskan ke sebuah BMW hitam di Las Vegas, kasus pembunuhan Tupac Shakur akhirnya masuk ruang sidang. Juri di Pengadilan Distrik Clark County sudah terbentuk pekan ini — 12 anggota inti plus empat cadangan, terdiri dari 10 perempuan dan enam laki-laki. Mereka akan menentukan nasib Duane "Keffe D" Davis, 63 tahun, satu-satunya orang yang pernah didakwa atas kematian rapper itu.

Ada yang ganjil dari perkara ini. Jaksa tidak menuduh Davis menarik pelatuk. Dakwaannya berbunyi: pembunuhan dengan senjata mematikan yang dilakukan untuk kepentingan sebuah geng. Menurut PBS, jaksa akan berargumen bahwa Davis-lah yang mengatur panggilan telepon malam itu dan menyediakan pistol yang dipakai menembak Shakur. Davis menyatakan dirinya tidak bersalah dan mempertahankan bantahan itu sejak ditangkap pada 2023.

Buat pendengar di Indonesia yang mengenal 2Pac lewat playlist, bukan lewat kaset, kasus ini terdengar seperti sejarah yang jauh. Tapi ia menjelaskan sesuatu yang lebih luas: bagaimana sebuah perkara bisa membeku selama tiga dekade, lalu hidup kembali bukan karena penemuan forensik, melainkan karena orang yang dicurigai terus-menerus bercerita — di buku, di podcast, di depan kamera.

Siapa Tupac buat yang lahir setelah 1996

Tupac Amaru Shakur, yang dikenal sebagai 2Pac dan belakangan memakai nama Makaveli, meninggal pada usia 25 tahun. Rekam jejaknya jauh lebih panjang dari umurnya. Album "All Eyez on Me" dirilis 13 Februari 1996, langsung menempati puncak Billboard 200, dan terjual lebih dari 566.000 kopi hanya dalam pekan pertama. RIAA kemudian memberinya sertifikasi Diamond — sepuluh juta unit di Amerika Serikat saja.

Taksiran penjualan sepanjang kariernya berada di kisaran 75 juta rekaman ke atas secara global. Angka itu baru terasa besar kalau ditaruh dalam konteks: sebagian besarnya terjadi setelah ia meninggal, dari katalog yang dibangun dalam waktu kurang dari enam tahun. Sedikit musisi yang punya kurva seperti itu, apalagi di genre yang saat itu masih dianggap pinggiran.

Malam 7 September 1996 di Las Vegas

Shakur duduk di kursi penumpang BMW hitam yang disetir Suge Knight, bos Death Row Records. Rombongan sedang menuju Club 662. Sebuah Cadillac putih merapat di sisi mobil, lalu rentetan tembakan dilepaskan. Shakur terkena beberapa peluru, Knight selamat. Enam hari kemudian, pada 13 September 1996, Shakur dinyatakan meninggal di rumah sakit.

Menurut versi jaksa, di dalam Cadillac itu ada Orlando Anderson — keponakan Davis — bersama Deandrae "Freaky" Smith dan Terry "Bubble Up" Brown. Ketiganya sudah tiada. Anderson, yang selama puluhan tahun disebut sebagai penembaknya, tewas dalam baku tembak antar-geng di Compton dua tahun setelah Shakur, dan tak pernah sekali pun didakwa atas kasus ini.

Kenapa kasus pembunuhan Tupac Shakur lama mandek

Jawaban pendeknya: tidak ada yang mau bicara, sampai satu orang bicara terlalu banyak. Perkara yang bersinggungan dengan geng punya masalah klasik yang sama di mana pun — orang yang paling tahu adalah orang yang paling berisiko kalau membuka mulut.

Saksi yang memilih diam

Suge Knight adalah satu-satunya saksi mata lain yang masih hidup dari dalam mobil itu. Ia kini menjalani hukuman 28 tahun penjara di California karena menabrak dan menewaskan seorang pengusaha di Compton pada Januari 2015, dan sebelumnya menyatakan tidak akan bersaksi. Selama puluhan tahun, keheningan seperti inilah yang membuat berkas kasus tidak pernah cukup kuat untuk dibawa ke pengadilan.

Pengakuan yang justru dijual ke publik

Davis mengambil jalur sebaliknya. Dalam memoarnya, "Compton Street Legends", ia menulis bahwa ia menerima sepucuk pistol dari seorang kenalan lalu melemparkannya ke jok belakang Cadillac. Ia tidak menyebut siapa yang menembak. Cerita itu ia ulang di berbagai wawancara selama bertahun-tahun. Materi yang semula dijual sebagai hiburan itulah yang kemudian menjadi tulang punggung dakwaan.

Memoar Sendiri Jadi Bukti di Sidang Pembunuhan Tupac Shakur

Apa yang dibawa jaksa ke persidangan

Jaksa menyiapkan sekitar 35 sampai 45 saksi: orang-orang yang berada di lokasi, mantan detektif, dan ahli soal geng. Di antaranya Leonard Jefferson, fotografer yang mengambil foto terakhir Shakur; Malcolm Greenidge, teman sang rapper; Denvonta Lee; serta Reggie Wright, mantan kepala keamanan Death Row.

Pembela justru bertolak belakang. Mereka berencana memanggil kurang dari lima saksi, salah satunya ahli soal pengakuan palsu dan teknik interogasi yang menekan. Strateginya masuk akal: bila bukti utama jaksa adalah kata-kata Davis sendiri, pertahanan paling logis adalah menyerang keandalan kata-kata itu, bukan membantah kronologi malam itu.

Nama besar yang tak akan naik ke kursi saksi

Sean "Diddy" Combs tidak masuk daftar saksi. Ia sedang menjalani hukuman empat tahun di New Jersey terkait perkara prostitusi. Dalam memoarnya, Davis menuding Combs pernah menginginkan kematian Knight dan Shakur serta menawarkan uang untuk itu — tuduhan yang dibantah Combs. Bagi keluarga, semua nama besar itu bukan inti persoalan.

"Siapa pun yang terlibat, siapa pun yang mengaturnya, siapa pun yang ikut andil, seharusnya dipenjara," kata Kendrick Lesane, sepupu Shakur, seperti dikutip PBS.

Yang perlu dipantau sebulan ke depan

Sidang di hadapan Hakim Carli Kierny diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan. Yang layak Anda tunggu bukan cuitan viral bertuliskan "kasusnya terpecahkan", melainkan tiga hal konkret: apakah pembela berhasil meruntuhkan kredibilitas memoar itu, apakah ada saksi mata baru yang benar-benar berbicara di bawah sumpah, dan apakah juri bulat. Ingat, dakwaan bukan vonis.

Satu hal patut disadari sejak sekarang: bahkan putusan bersalah pun tidak akan menjawab pertanyaan siapa yang menembak, karena jaksa memang tidak mengajukan pertanyaan itu. Kalau Anda mengikuti perkembangan kasus pembunuhan Tupac Shakur, sandarkan pada kantor berita yang meliput langsung dari ruang sidang — bukan pada potongan video lama yang setiap tahun beredar ulang.