Olahraga Rutin Tak Menghapus Efek Duduk Terlalu Lama

Studi JAMA terhadap hampir 50.000 orang menemukan ambang 10 jam duduk per hari — dan olahraga rutin ternyata tidak menghapus risikonya.

Olahraga Rutin Tak Menghapus Efek Duduk Terlalu Lama

Kalau kamu berharap olahraga sore bisa menghapus efek duduk terlalu lama di depan layar, riset terbaru punya kabar yang kurang enak. Studi besar yang terbit di jurnal JAMA pada September 2023 menemukan bahwa waktu duduk yang panjang tetap berkaitan dengan naiknya risiko demensia — termasuk pada orang yang rutin bergerak. Olahraga tetap penting. Tapi ia bukan penghapus dosa.

Peneliti memasang alat pelacak gerak di pergelangan tangan hampir 50.000 orang dewasa, rata-rata berusia 67 tahun, dan merekam gerakan mereka 24 jam sehari selama satu pekan penuh. Peserta lalu diikuti sekitar enam tahun. Polanya jelas: di bawah 10 jam duduk per hari, tidak terlihat kenaikan risiko yang berarti. Di angka 12 jam, risiko demensia naik sekitar 50 persen. Di 15 jam, risikonya nyaris tiga kali lipat.

Buat orang Indonesia yang berangkat kerja naik motor atau KRL lalu menempel di kursi selama delapan jam, angka itu bukan urusan orang luar negeri. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 37,4 persen penduduk usia 10 tahun ke atas kurang aktivitas fisik. Riskesdas 2018 sebelumnya menemukan 33,5 persen penduduk pada kelompok usia yang sama sudah duduk enam jam atau lebih setiap hari.

Yang Terjadi di Otak Saat Duduk Terlalu Lama

Masalahnya berawal dari aliran darah. Ketika tubuh diam berjam-jam, aliran darah ke otak melambat dan pasokan oksigen serta nutrisi ikut berkurang. detikHealth mengutip dr. Manisha Parulekar, spesialis geriatri dan wakil direktur Center for Memory Loss and Brain Health di Hackensack University Medical Center, yang menyebut gaya hidup pasif berkaitan dengan munculnya depresi dan kecemasan.

Efek jangka pendeknya terasa di hari yang sama: produksi dopamin dan endorfin turun, badan lemas, motivasi menipis, gampang tersinggung, susah fokus. Kabar baiknya, ini bisa dibalik — begitu kamu bangkit dan bergerak, otak umumnya pulih. Efek jangka panjangnya lebih pelan dan lebih serius: peradangan di otak meningkat, sel imun otak alias mikroglia terganggu, dan daya ingat ikut merosot.

Kenapa Batas 10 Jam Sehari Itu Penting

Temuan paling berguna dari studi JAMA bukan "duduk itu jahat", melainkan adanya ambang. Di bawah 10 jam sehari, kurva risikonya nyaris datar. Setelah garis itu, kurvanya menanjak cepat. Artinya target yang masuk akal bukan berhenti duduk — mustahil untuk pekerja kantoran — tapi menjaga total waktu duduk harian tetap di bawah ambang tersebut.

Ada detail lain yang jarang disebut. Risikonya sama saja apakah waktu duduk itu menumpuk dalam satu blok panjang atau tersebar sepanjang hari. Jadi alasan "saya kan sering berdiri sebentar-sebentar" belum tentu menolong kalau totalnya tetap 13 jam. Untuk urusan otak, yang dihitung adalah akumulasinya. Jeda tetap berguna, tapi untuk alasan berbeda — dan itu dibahas di bawah.

Olahraga Rutin Tak Menghapus Efek Duduk Terlalu Lama

Berapa Lama Orang Indonesia Duduk Tiap Hari?

Yang menarik bukan cuma angkanya, tapi alasannya. Ketika ditanya kenapa tidak berolahraga, jawaban penduduk Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan tersebar begini:

  • Tidak punya waktu — 48,7 persen
  • Malas — 32,6 persen
  • Merasa sudah lanjut usia — 19,5 persen
  • Tidak punya teman beraktivitas — 9,8 persen

Hampir separuh masalahnya soal waktu, dan justru itu argumen terkuat untuk pendekatan jeda pendek: kalau 30 menit ke gym terasa mustahil, lima menit menjauh dari kursi jauh lebih mungkin. Sebagai pembanding arah tren, prevalensi obesitas pada penduduk 18 tahun ke atas naik dari 14,8 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018.

Kenapa Olahraga Saja Tidak Cukup

Bagian ini yang paling sering disalahpahami. Lari 40 menit tiap pagi memang menurunkan banyak risiko kesehatan, tapi dalam studi JAMA kaitan antara duduk terlalu lama dan demensia tetap muncul setelah aktivitas fisik peserta diperhitungkan. Duduk 13 jam lalu olahraga satu jam bukan transaksi impas. Keduanya perlu diurus terpisah.

Jenis duduknya juga berpengaruh. Riset yang sama menunjukkan duduk pasif seperti menonton TV berkaitan dengan risiko lebih tinggi, sementara duduk yang menuntut kerja otak — membaca, mengetik, mengisi teka-teki, kerajinan tangan — justru berkaitan dengan risiko lebih rendah. Otak yang menganggur ditambah tubuh yang diam adalah kombinasi terburuknya.

Cara Memutus Duduk Panjang di Jam Kerja

Kalau total jam duduk mengurus risiko otak jangka panjang, jeda mengurus hal lain yang sama pentingnya: gula darah dan tekanan darah harian. Di sini ada angka yang cukup spesifik untuk langsung dipakai besok pagi.

Lima Menit Jalan Kaki Tiap 30 Menit

Peneliti Columbia University menguji beberapa pola jeda pada orang dewasa berusia 40-an hingga 60-an. Hanya satu pola yang menurunkan tekanan darah sekaligus gula darah: jalan kaki lima menit setiap 30 menit duduk. Pola itu memangkas lonjakan gula darah setelah makan hingga 58 persen dibanding duduk delapan jam nonstop. Jeda tiap 60 menit tidak memberi manfaat sama sekali.

Kalau Cuma Sempat Satu Menit

Jeda satu menit tiap setengah jam tetap memberi manfaat kecil untuk gula darah. Dan semua pola jeda yang diuji menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 4-5 poin dibanding duduk seharian penuh — setara penurunan risiko penyakit jantung sekitar 13 sampai 15 persen. Jeda pendek yang tidak sempurna masih jauh lebih baik daripada tidak ada jeda.

Target Mingguan Versi WHO

WHO menyarankan orang dewasa 18-64 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang 150-300 menit per minggu, sedangkan anak dan remaja minimal 60 menit per hari. Angka 150 menit terdengar berat sampai kamu bagi tujuh: sekitar 21 menit sehari. Jalan cepat ke warung, naik tangga, atau turun satu halte lebih awal sudah masuk hitungan.

Langkah paling praktis minggu ini adalah menghitung kasar total jam dudukmu — kerja, perjalanan, makan, plus layar sebelum tidur. Kalau hasilnya menyentuh 10 jam, itu garis yang perlu digeser, bukan alasan panik. Pasang pengingat tiap 30 menit selama jam kerja, dan tukar satu jam menonton di malam hari dengan kegiatan yang membuat otak dan kaki sama-sama bekerja.