Pabrik Semen Wonogiri Incar 309 Hektare Karst UNESCO
Aksi damai mahasiswa UGM dan Forum BEM se-DIY di Gejayan membuka lagi polemik proyek semen Rp 6 triliun di kawasan karst Gunungsewu yang berstatus geopark dunia.
Mahasiswa UGM bersama Forum BEM se-DIY menggelar aksi damai menolak rencana pabrik semen Wonogiri di pertigaan Gejayan, Yogyakarta, Kamis (13/8). Yang mereka bawa bukan spanduk lingkungan yang biasa-biasa saja. Tuntutan paling keras justru diarahkan ke dalam: hentikan manipulasi Amdal, tolak instrumentalisasi kampus dan akademisi, dan usut tuntas aktor intelektual di balik masuknya proyek ekstraktif ke Pracimantoro.
Proyek yang disorot berada di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan pemberitaan Mojok dan Merdeka, luas totalnya sekitar 309 hektare: 123,32 hektare untuk pabrik semen milik PT Anugerah Andalan Asia berkapasitas 4,5 juta ton per tahun, ditambah 186,13 hektare konsesi tambang batu gamping PT Sewu Surya Sejati dengan kuota 4,2 juta ton per tahun. Izinnya terbit 5 Juli 2024. Kompas.com menyebut nilai investasinya menembus Rp 6 triliun.
Kenapa ini urusan orang banyak, bukan cuma warga lima desa? Karena lahan itu duduk di jalur karst Gunungsewu, kawasan batu gamping berlubang-lubang yang berstatus UNESCO Global Geopark. Karst bekerja seperti spons raksasa: air hujan masuk lewat retakan, mengalir di sungai bawah tanah, lalu keluar lagi sebagai mata air dan sumur warga. Bongkar bukitnya, dan yang hilang bukan cuma pemandangan.
Apa yang sebenarnya dituntut mahasiswa
Aksi di Gejayan tidak menuntut proyek dihentikan hari itu juga. Yang diminta lebih spesifik: proses Amdal dijalankan transparan, independen, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik maupun hukum. Massa mempersoalkan dugaan keterlibatan akademisi dalam proses perizinan — sebuah tuduhan yang jarang muncul dalam demo lingkungan, karena biasanya sasarannya perusahaan atau pemerintah daerah, bukan ruang seminar kampus.
"Proses kajian lingkungan harus dilakukan secara objektif dan tidak boleh dipengaruhi kepentingan tertentu," kata Rohman, mahasiswa UGM yang ikut aksi.
Poin itu penting karena Amdal bukan formalitas administratif. Dokumen inilah yang jadi dasar hukum izin lingkungan. Kalau kajiannya cacat sejak awal, seluruh bangunan izin di atasnya ikut rapuh — dan itu persis celah yang dipakai warga di kasus-kasus serupa sebelumnya.
Angka-angka proyek pabrik semen Wonogiri
Membaca proyek ini paling jelas lewat tiga hal: siapa pemainnya, berapa luasnya, dan apa yang ditawarkan ke warga.
Dua perusahaan, dua izin, satu kawasan
PT Anugerah Andalan Asia memegang izin pabrik, PT Sewu Surya Sejati memegang izin tambang gamping. Keduanya terbit pada tanggal yang sama, 5 Juli 2024. Pabrik butuh bahan baku, tambang menyediakannya — jadi meski dua badan hukum, dampaknya menyatu di satu bentang alam yang sama.
Desa mana yang kena
Area pabrik menyentuh Desa Watangrejo, Suci, dan Sambiroto. Area tambang meluas ke Watangrejo, Suci, Gambirmanis, Joho, dan Petirsari. Lima desa, satu sistem air bawah tanah. Di kawasan karst, sumur yang mengering biasanya bukan sumur yang tepat di bawah galian, melainkan yang beberapa kilometer di hilirnya.
Harga tanah dan janji kerja
Kompas.com mencatat warga ditawari Rp 50.000 per meter persegi. Untuk lahan 1.000 meter, itu Rp 50 juta — angka yang sulit dipakai membeli tanah pengganti di kecamatan yang sama. Investor menjanjikan sekitar 1.200 pekerja saat konstruksi dan 1.200 lagi saat operasional, dengan tawaran upah Rp 2,5 juta per bulan. Warga menghitung ulang: sawah dan ternak hilang permanen, upah berjalan selama pabrik masih untung.
Perlawanan yang sudah berjalan bertahun-tahun
Aksi mahasiswa Kamis lalu bukan babak pertama. Warga Pracimantoro sudah menempuh petisi, audiensi ke DPRD, sampai mengajukan 13 tuntutan ke Pemkab Wonogiri. Mereka juga menempuh jalur yang tidak biasa: Koalisi Selamatkan Karst Gunungsewu mengirim surat aduan ke markas UNESCO, yang menurut Mojok diterima pada 24 Mei 2026. Status geopark memang bisa dievaluasi ulang bila kawasannya rusak.
Jejaknya lebih panjang lagi. Pada 2009, warga Giriwoyo — masih di Wonogiri — sudah menolak rencana pabrik semen di jalur karst yang sama. Dan di Jawa Tengah, preseden hukumnya nyata: Mahkamah Agung pada 2016 membatalkan izin lingkungan pabrik semen di Rembang lewat putusan peninjauan kembali yang diajukan petani Kendeng.
Indonesia kelebihan semen, kenapa bangun pabrik lagi
Ini pertanyaan yang paling jarang dibahas. Mojok mencatat produksi semen nasional naik dari kisaran 62–65 juta ton per tahun pada 2020–2023 menjadi sekitar 85 juta ton pada 2024, sementara serapan pasar tak tumbuh secepat itu. Himawan Kurniadi dari Lingkar Keadilan Ruang menilai pasokan semen sudah surplus, sehingga daya rusaknya tak sebanding dengan kebutuhan.
Artinya perdebatan bergeser. Ini bukan lagi soal lingkungan versus pembangunan, tapi soal apakah tambahan 4,5 juta ton kapasitas memang dibutuhkan — dan siapa yang menanggung biayanya kalau ternyata tidak.
Yang perlu Anda pantau berikutnya
Tiga hal layak diikuti. Pertama, apakah UGM merespons tuduhan keterlibatan akademisi dengan audit internal atau sekadar bantahan. Kedua, apakah Pemprov Jawa Tengah membuka dokumen Amdal 2024 ke publik — dokumen itu seharusnya bisa diakses siapa saja. Ketiga, respons UNESCO atas aduan koalisi warga, karena status geopark adalah satu-satunya rem internasional yang tersedia di sini.
Kalau Anda tinggal di Wonogiri, Gunungkidul, atau Pacitan, kepentingannya konkret: sistem air karst tidak berhenti di batas kabupaten. Cek apakah desa Anda masuk peta dampak hidrologi dalam dokumen Amdal, dan minta salinannya lewat kantor lingkungan hidup setempat. Pertanyaan yang diajukan sekarang jauh lebih murah daripada sumur yang kering lima tahun lagi.
Comments 0