Bukan Air Putih, Ini Pemicu Nyata Obesitas di Indonesia

Ketua HISOBI menolak menyimpulkan keluhan "minum air saja gemuk" sebagai gangguan hormon — data Kemenkes menunjukkan masalahnya ada di tempat lain.

Bukan Air Putih, Ini Pemicu Nyata Obesitas di Indonesia

Keluhan "minum air saja sudah gemuk" terdengar di mana-mana, tapi dokter yang menangani obesitas di Indonesia hampir selalu menemukan penjelasan yang jauh lebih membosankan daripada gangguan hormon. Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan keluhan semacam itu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kelainan metabolisme. Yang lebih sering terjadi sederhana saja: ada asupan yang tidak pernah masuk hitungan.

Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran kampanye edukasi #BeraniBicaraBerat di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026. Seperti dikutip Kompas, Dante menyoroti camilan — yang dimakan sambil kerja, sambil rapat, sambil scroll — sebagai bagian yang paling sering luput saat seseorang merasa sudah makan sedikit. Air putih sendiri nol kalori. Secara biologis ia mustahil jadi tersangka.

Kenapa ini penting sekarang? Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 23,4 persen orang dewasa di atas 18 tahun mengalami obesitas, naik dari 21,8 persen pada 2018. Itu sekitar satu dari empat orang dewasa. Kalau kelebihan berat badan ikut dihitung, angkanya menjadi 37,8 persen — hampir empat dari sepuluh orang yang kamu temui hari ini.

Kenapa Timbangan Naik Padahal Porsi Terasa Sama

Berat badan bergerak mengikuti selisih energi masuk dan energi terpakai, dan otak manusia payah dalam mencatat sisi pertama. Nasi di piring gampang diingat. Segelas kopi susu gula aren, dua potong gorengan di pos satpam, atau sekantong keripik yang habis pelan-pelan selama satu episode drama biasanya tidak dianggap "makan". Padahal semuanya masuk hitungan yang sama.

Laju metabolisme memang berbeda antarorang, dan itu nyata. Tapi perbedaan itu jarang cukup besar untuk menjelaskan kenaikan berat badan berkilo-kilo. Dante meminta orang tidak buru-buru mendiagnosis diri sendiri lewat media sosial. Kalau memang ada dugaan masalah hormon atau tiroid, itu ranah pemeriksaan dokter, bukan tebakan kolom komentar.

Seberapa Besar Masalah Obesitas di Indonesia

Angka nasional menutupi jurang yang cukup lebar. Menurut data SKI 2023 yang dipaparkan dalam kampanye tersebut dan diberitakan ANTARA, prevalensi obesitas pada perempuan mencapai 31,2 persen, sementara pada laki-laki 15,7 persen. Selisihnya dua kali lipat. Ini pola yang jarang dibahas ketika obesitas dibicarakan sebagai soal disiplin pribadi.

Ukuran lain justru bergerak lebih cepat. Obesitas sentral — lemak yang menumpuk di perut, jenis yang paling erat kaitannya dengan diabetes dan penyakit jantung — naik dari 31 persen pada Riskesdas 2018 menjadi 36,8 persen pada SKI 2023. Lompatan hampir enam poin dalam lima tahun. Secara geografis, kota besar memimpin: DKI Jakarta tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas tertinggi, sekitar 48 persen, disusul Sulawesi Utara dan Papua.

Bukan Air Putih, Ini Pemicu Nyata Obesitas di Indonesia

Yang Bisa Kamu Cek Minggu Ini

Tidak perlu menunggu program diet besar. Tiga pemeriksaan berikut bisa dilakukan sendiri dalam tujuh hari dan biasanya sudah menjawab pertanyaan "kenapa saya naik terus".

Catat Minumanmu Dulu, Baru Nasinya

Selama satu minggu, tulis semua yang kamu minum selain air putih. Bukan makanannya dulu — minumannya. Kebanyakan orang kaget melihat daftarnya sendiri:

  • Kopi susu kekinian dan boba yang dibeli hampir tiap hari kerja
  • Teh manis kemasan yang dianggap "cuma minuman"
  • Jus buah kemasan yang terasa sehat tapi tinggi gula tambahan
  • Sirup dan minuman bersoda saat kumpul keluarga

Ukur Lingkar Perut, Jangan Cuma Timbangan

Kemenkes memakai lingkar perut, bukan hanya berat badan, untuk menilai obesitas sentral. Meteran jahit sudah cukup. Ambang yang lazim dipakai di kawasan Asia adalah 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan. Angka timbangan bisa terlihat aman sementara lingkar perut sudah lewat batas — dan justru itu yang berisiko.

Tanya Dokter Sebelum Percaya Iklan Obat

Dante mengingatkan agar terapi obesitas disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, dan menyarankan konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam, endokrin, atau gizi klinik. Sebagian orang butuh penyesuaian menu utama, sebagian lain justru bermasalah di camilan. "Jangan termakan hoaks di sosmed," katanya, seperti dilaporkan ANTARA.

Kenapa Ini Disebut Penyakit, Bukan Soal Penampilan

Poin yang paling ditekankan sepanjang kampanye adalah pergeseran cara pandang. Obesitas bukan urusan foto profil atau ukuran baju, melainkan kondisi kronis yang menaikkan risiko diabetes, penyakit jantung, sampai kanker. Tubuh yang kelebihan lemak berada dalam kondisi peradangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Jangan lupa bahwa di dalam tubuh yang obesitas itu, peradangan kita berjalan terus.

Dante juga menolak pendekatan yang menimpakan semuanya ke individu. Menurutnya, obesitas tidak bisa ditangani sendirian dan harus dimulai dari keluarga — karena pola makan, jam makan, dan isi kulkas adalah keputusan bersama, bukan pilihan satu orang.

Yang Perlu Dipantau Setelah Kampanye Ini

Kampanye edukasi tidak mengubah angka dengan sendirinya. Yang layak diikuti adalah apakah pemeriksaan lingkar perut benar-benar jadi rutinitas di puskesmas dan pemeriksaan kesehatan gratis, dan apakah survei berikutnya menunjukkan perlambatan tren obesitas sentral yang sudah naik enam poin. Sementara itu, mulai dari yang bisa kamu kendalikan minggu ini: catat minumanmu selama tujuh hari, ukur lingkar perut, dan kalau angkanya lewat batas, bawa catatan itu ke dokter alih-alih ke kolom pencarian.