Dinkes Sleman Uji Tikus, Ini Risiko Infeksi Ibu Hamil

Dinas Kesehatan Sleman memeriksa tikus di laboratorium sementara rumah sakit menggelar edukasi kehamilan — dua hal yang ternyata saling terhubung lewat cuaca.

Dinkes Sleman Uji Tikus, Ini Risiko Infeksi Ibu Hamil

Risiko infeksi ibu hamil di Sleman sekarang punya penanda yang tidak biasa: tikus yang dibawa ke laboratorium. Dinas Kesehatan Sleman mencatat 59 kasus leptospirosis positif sepanjang 2026, ditambah 52 kasus suspek yang masih dipantau, dan memperluas kewaspadaan dengan memeriksa tikus untuk mendeteksi kemungkinan hantavirus. Menurut Harian Jogja, temuan terbanyak berasal dari Gamping dan Ngemplak.

Di kabupaten yang sama, RS Universitas Ahmad Dahlan menggelar edukasi bagi ibu hamil soal ancaman infeksi di era perubahan iklim, seperti diberitakan Media Center Sleman pada 14 Agustus 2026. Dua peristiwa itu terlihat terpisah, padahal satu benang merahnya jelas: penyakit yang dulu terasa musiman kini muncul lebih sering, dan tubuh ibu hamil termasuk yang paling cepat merasakannya.

Kenapa ini penting untuk dibaca sampai habis? Kehamilan mengubah cara tubuh merespons infeksi. Demam tinggi, dehidrasi berat, dan penyakit yang butuh perawatan intensif punya konsekuensi berbeda ketika ada janin di dalamnya. Artinya cuaca yang makin sulit ditebak bukan sekadar urusan payung dan kipas angin — ia menggeser daftar penyakit yang wajib diwaspadai selama sembilan bulan.

Kenapa Tikus Sampai Dibawa ke Laboratorium

Leptospirosis menular lewat air atau lumpur yang terkontaminasi kencing tikus, biasanya masuk lewat luka kecil di kaki atau selaput lendir. Genangan sehabis hujan deras adalah medianya yang sempurna. Dengan memeriksa tikus secara langsung, dinas kesehatan tidak menunggu pasien datang lebih dulu — mereka mencari sinyalnya di sumber. Skrining hantavirus dilakukan karena hewan pengerat yang sama bisa membawa lebih dari satu patogen.

Yogyakarta memang bukan pendatang baru dalam urusan ini. Kompas melaporkan wilayah ini berstatus endemis leptospirosis, dengan enam kasus penularan tercatat di Kota Yogyakarta hingga awal Maret 2026. Status endemis berarti penyakitnya menetap, bukan datang sesekali. Yang berubah adalah frekuensi banjir kecil dan genangan yang memberi tikus dan manusia lebih banyak kesempatan bertemu.

Risiko Infeksi Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua penyakit menular jadi lebih berbahaya saat hamil, tapi beberapa jelas naik kelas. Tiga di bawah ini paling relevan untuk pembaca di DIY, karena ketiganya terikat langsung pada hujan, genangan, dan panas — variabel yang justru paling banyak berubah belakangan.

Leptospirosis Setelah Genangan dan Banjir

Gejalanya menipu: demam mendadak, nyeri otot terutama di betis, mata memerah, dan sakit kepala. Mudah dikira flu biasa. Pada kasus berat, penyakit ini menyerang ginjal dan hati. Bagi ibu hamil, demam tinggi yang tidak segera ditangani dan infeksi sistemik adalah kombinasi yang tidak boleh ditunda. Sebutkan riwayat kontak dengan air genangan saat berobat — itu sering jadi petunjuk kunci bagi dokter.

Demam Berdarah Saat Pancaroba

Nyamuk Aedes bertelur di air bersih yang menggenang, dan pergantian musim memberi mereka lebih banyak wadah. DBD pada kehamilan perlu pemantauan trombosit lebih ketat, apalagi bila mendekati waktu persalinan. Kabar baiknya, pencegahannya paling mudah dikendalikan sendiri: yang perlu diberantas ada di dalam pagar rumah, bukan di jalanan.

Panas Panjang dan Dehidrasi

Kementerian Kesehatan mengingatkan musim kemarau 2026 diprediksi lebih panjang, dengan risiko heat stroke, ISPA, hingga penyakit akibat sanitasi yang memburuk, seperti dikutip Kompas. Ibu hamil punya kebutuhan cairan dan beban kardiovaskular yang lebih besar, sehingga dampak panas terasa lebih cepat. Dehidrasi juga membuat infeksi saluran kemih lebih gampang muncul.

Dinkes Sleman Uji Tikus, Ini Risiko Infeksi Ibu Hamil

Angka DIY yang Bikin Ini Bukan Sekadar Imbauan

Skalanya nyata. Kompas mencatat total 453 kasus leptospirosis di DIY sepanjang Januari–November 2025, dengan Sleman menyumbang 118 kasus, dan puluhan kematian sepanjang tahun itu. Untuk DBD, Dinkes Sleman mencatat 418 kasus pada 2025, sementara Kota Yogyakarta sudah menembus 249 kasus di awal musim hujan November 2025. Digabung, itu ratusan keluarga per tahun — beberapa di antaranya pasti sedang menunggu kelahiran.

Rumah Sakitnya Sendiri Harus Tahan Cuaca

Persoalannya bukan cuma pasien. WHO Indonesia melaporkan pada 6 Maret 2026 bahwa 97 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan bencana, dan 142 fasilitas kesehatan rusak akibat bencana terkait iklim sepanjang 2024. Wakil Menteri Kesehatan Dante Herbuwono menyebut kelompok rentan — anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas — sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya.

Pemerintah bersama WHO sudah menjalankan penilaian percontohan di 15 fasilitas kesehatan di Jakarta, Semarang, dan Bantul, dengan panduan yang diluncurkan September 2025. Bantul tetangga langsung Sleman, jadi kerangka kerja ini bukan wacana jauh. Penilaiannya mencakup kesiapan tenaga kesehatan, air bersih, sanitasi, limbah, energi, dan infrastruktur — hal-hal yang menentukan apakah layanan persalinan tetap jalan saat listrik mati atau jalan tergenang.

Yang Bisa Dilakukan Sebelum Kontrol Berikutnya

Sebagian besar pencegahan tidak butuh biaya dan bisa dimulai hari ini juga:

  • Hindari menembus genangan tanpa alas kaki tertutup; kalau terpaksa, cuci kaki dengan sabun dan air mengalir segera setelahnya.
  • Tutup dan tutup rapat penampungan air, kuras bak seminggu sekali, buang wadah bekas di halaman.
  • Rapatkan penyimpanan makanan dan tutup celah masuk tikus di dapur serta gudang.
  • Minum lebih sering saat siang panas, dan kenali tanda dehidrasi seperti urine pekat dan pusing saat berdiri.
  • Demam apa pun di atas 38 derajat yang bertahan lebih dari sehari: periksakan, jangan tunggu tiga hari.

Saat kontrol kehamilan berikutnya, ceritakan kondisi lingkungan rumah Anda — apakah sering tergenang, apakah ada tikus, apakah tetangga ada yang kena DBD. Informasi sepele itu mengubah kecurigaan klinis dokter dan mempercepat diagnosis. Yang perlu dipantau bulan-bulan ke depan adalah peralihan ke musim hujan, karena di situlah kurva leptospirosis dan DBD di DIY biasanya mulai menanjak bersamaan.