Kenapa Kuliner Khas Tangerang Punya Dua Versi Laksa?

Di balik daftar makanan wajib coba saat HUT RI ke-81, ada satu fakta yang jarang diceritakan: Tangerang punya dua garis keturunan laksa yang berbeda, dan harganya masih di bawah Rp25 ribu.

Kenapa Kuliner Khas Tangerang Punya Dua Versi Laksa?

Kalau kamu berencana berburu kuliner khas Tangerang di libur HUT RI ke-81, ada satu hal yang hampir tidak pernah masuk daftar rekomendasi: laksa di kota ini punya dua garis keturunan yang berbeda. Yang satu disebut laksa nyai, yang lain laksa nyonya. Bukan sekadar nama dagang — keduanya datang dari dua komunitas yang berbeda, dan rasanya pun tidak sama.

Pemerintah Kota Tangerang lewat situs resminya pada 14 Agustus 2026 mendorong warga memanfaatkan momen kemerdekaan untuk keliling makan di kota sendiri. Daftarnya pendek tapi padat: laksa, sate ayam H. Ishak yang sudah berjualan sejak 1954, bubur ayam Ko Iyo sejak 1966, serta serabi hijau dengan pilihan kuah pandan atau durian. Hampir semuanya berkumpul di satu titik, kawasan Pasar Lama.

Kabar baiknya buat dompet, ini termasuk wisata paling murah yang bisa kamu lakukan di Jabodetabek pada 17 Agustus. Semangkuk laksa di Laksa Kang Didin dijual Rp10 ribu, naik jadi Rp15 ribu kalau ditambah telur. Kisaran umum di kota ini Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per porsi. Artinya berdua bisa makan tiga jenis jajanan sekaligus dengan uang tak sampai Rp100 ribu.

Dua Laksa, Dua Komunitas, Satu Kota

Laksa nyai dibuat warga pribumi Tangerang dan menonjolkan rempah lokal yang kuat. Laksa nyonya lahir dari dapur peranakan Tionghoa dan condong ke perpaduan gurih-pedas khas masakan peranakan. Keduanya sama-sama memakai mi beras dengan kuah kuning kental, tapi karakternya berbeda begitu sendok pertama masuk. Kalau kamu terbiasa dengan laksa Betawi atau laksa Bogor, siapkan lidah untuk sesuatu yang lebih pekat.

Namanya sendiri punya cerita. Kata "laksa" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti banyak — merujuk pada jumlah rempah dan isian di dalamnya, bukan pada porsinya. Hidangan ini sudah ada di Tangerang selama ratusan tahun, tapi baru ramai dijajakan pedagang keliling sejak era 1970-an. Pada 2023, laksa Tangerang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Di Mana Kuliner Khas Tangerang Ini Dicari?

Dua alamat menjelaskan hampir seluruh peta makan di kota ini. Yang pertama dibangun khusus untuk laksa, yang kedua tumbuh sendiri selama puluhan tahun dan sekarang jadi magnet malam. Jaraknya berdekatan, jadi keduanya bisa dihabiskan dalam satu sore.

Kawasan Kuliner Laksa di Jalan Mochammad Yamin

Sentra ini berada di Jalan Mochammad Yamin Nomor 113, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang. Delapan penjual laksa berjejer di dalam bangunan menyerupai saung sepanjang sekitar 40 meter, dengan daya tampung sampai 200 orang. Ini tempat paling aman kalau kamu datang rombongan keluarga dan ingin membandingkan beberapa versi laksa tanpa berpindah lokasi.

Pasar Lama, Pasar Pagi yang Berubah Jadi Kuliner Malam

Pasar Lama punya dua wajah dalam sehari. Pagi sampai siang ia beroperasi sebagai pasar rakyat biasa. Menjelang sore, gerobak dan tenda mulai memenuhi badan jalan, dan kawasan itu berubah jadi pusat jajanan. Sebuah riset penataan kawasan wisata kuliner mencatat 247 pedagang di sana — 147 di antaranya warga Kota Tangerang, sisanya datang dari luar kota.

Kenapa Kuliner Khas Tangerang Punya Dua Versi Laksa?

Yang Bertahan Puluhan Tahun di Pasar Lama

Sate ayam H. Ishak dirintis pada 1954 dengan cara berkeliling sebelum akhirnya menetap di Pasar Lama. Sampai sekarang warung itu disebut menghabiskan sekitar 600 porsi per hari — angka yang menjelaskan kenapa antreannya panjang saat akhir pekan. Bubur ayam Ko Iyo berdiri 1966 dan tetap menyajikan porsi besar dengan cakwe, suwiran ayam, telur, dan sayur asin.

Sisanya jajanan yang mudah dibawa jalan: serabi hijau berkuah pandan atau durian, telur gulung, bola ubi, sampai street food modern yang menempel di antara gerobak lama. Untuk bawa pulang, sate bandeng masih jadi oleh-oleh paling khas — daging bandeng dilepas dari kulitnya, durinya dibuang, dicampur bawang putih, ketumbar, dan kemiri, lalu dimasukkan lagi ke kulitnya.

Apa yang Bakal Berubah Setelah Agustus Ini?

Pemkot Tangerang sudah menyatakan rencana menata ulang kawasan Pasar Lama, seperti diberitakan Banten Ekspres pada Juni 2026. Buat pengunjung, artinya wajah kawasan yang kamu datangi tahun ini belum tentu sama tahun depan — posisi lapak dan pola parkir bisa bergeser. Buat pedagang, penataan biasanya berarti masa transisi yang tidak selalu mulus.

Itu juga alasan kenapa momen liburan panjang ini punya nilai lebih dari sekadar makan enak. Uang yang berputar di sana masuk langsung ke pedagang kecil, bukan ke jaringan besar — dan usaha berumur 60-70 tahun seperti H. Ishak atau Ko Iyo bertahan justru karena arus pengunjung yang stabil.

Cara Datang Tanpa Terjebak Antrean

Beberapa hal praktis yang layak kamu siapkan sebelum berangkat:

  • Datang sebelum pukul 17.00 kalau ingin melewatkan puncak keramaian, atau setelah 20.00 saat gelombang pertama sudah pulang.
  • Bawa uang tunai pecahan kecil — banyak gerobak lama belum menerima pembayaran digital.
  • Parkir di luar kawasan dan jalan kaki; gang di Pasar Lama sempit dan searah saat malam.
  • Sisakan ruang perut: laksa dulu di sentra Mochammad Yamin, baru sate dan bubur di Pasar Lama.

Kalau kamu cuma punya waktu satu sore pada 17 Agustus, ambil rute paling sederhana: semangkuk laksa nyonya di Pasar Lama, lalu satu porsi sate H. Ishak, tutup dengan serabi hijau. Total di bawah Rp60 ribu per orang. Pantau juga pengumuman resmi Pemkot soal penataan kawasan — kalau jadwal pengerjaan diumumkan, sebaiknya kamu datang sebelum lapak-lapak itu mulai dipindahkan.