Salmon Diasap 5 Jam, Lalu Ketemu Sambal Kuliner Manado
Dua restoran Jakarta menyatukan teknik pengasapan daging ala Amerika dengan bumbu Sulawesi Utara dalam acara dua hari yang menu-menunya tak biasa.
Kalau selama ini kuliner Manado di kepala kamu berhenti di rica-rica pedas dan tinutuan pagi hari, dua dapur di Jakarta baru saja mendorongnya ke arah yang cukup asing. LC Smokehouse di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, membuka pintunya untuk Mata Karanjang pada 1-2 Agustus 2026 lewat acara bertajuk "Dari Timur ke Barat: American Smoke, Indonesian Soul". Konsepnya sederhana di atas kertas, rumit di praktik: teknik pengasapan daging khas Amerika, bumbu Sulawesi Utara.
Menu pembukanya saja sudah cukup aneh untuk dibicarakan. Salmon diasap dingin selama lima jam, lalu disiram bumbu gohu segar khas Manado — namanya Smoked Salmon Gohu. Di sisi lain meja ada Grill Wagyu Burnt Ends Ragey, potongan brisket wagyu yang diasap 12 jam penuh sebelum bertemu sambal rica hijau. Bukan fusion yang malu-malu; keduanya sama-sama berteriak.
Harganya dipatok Rp60.000 sampai Rp180.000 per porsi secara à la carte, dan menurut detikFood kedua restoran ini bukan pemain kecil. Keduanya masuk daftar Top 100 Restaurants Indonesia versi Best Eats by Foodies 2026, sementara Mata Karanjang juga tercatat di Tatler Best 20 Restaurants in Indonesia 2026. Masalahnya, acara ini hanya berjalan dua hari.
Dua Dapur yang Sebenarnya Tak Punya Kesamaan
LC Smokehouse berdiri sejak 2020 di Jalan Kebon Sirih, Menteng, didirikan pasangan suami-istri Marion Charbonnier dan Noor Setyoutomo yang bertemu saat sama-sama bekerja di Australia. Andalan mereka brisket wagyu marble score 6+ yang diasap 12 jam dengan bumbu racikan sendiri, disajikan bersama saus BBQ berbasis mustard. Semua daging diasap di tempat, bukan dikirim setengah matang dari dapur lain.
Mata Karanjang datang dari arah berbeda. Restoran di Jalan Wijaya VI, Melawai, Kebayoran Baru itu dipegang Chef Jovan Koraag, yang lahir dan besar di Manado, menempuh pendidikan di Singapura, dan sudah hampir 20 tahun berkarier di dapur. Menu hariannya termasuk tuna belly bakar dan wagyu bumbu RW. Bumbunya keras, tekniknya rapi.
Menu yang Cuma Ada Dua Hari
Yang disajikan bukan menu lama yang ditempeli sambal. Setiap piring dikerjakan dari dua sisi sekaligus, dan itu terlihat dari cara masing-masing bahan diperlakukan.
Salmon Dingin, Bumbu Panas
Smoked Salmon Gohu memakai pengasapan dingin, yang secara teknis tidak memasak ikannya. Asap hanya meresap dan memberi aroma, sementara daging salmon tetap lembut. Lima jam sudah cukup. Bumbu gohu — asam, pedas, segar — lalu masuk sebagai penyeimbang. Kombinasi asap dan asam ini sebetulnya logika yang sama dipakai barbecue Amerika, cuma sumber asamnya berbeda.
Wagyu 12 Jam dan Sambal Rica
Untuk daging sapi, ceritanya berbalik. Brisket wagyu butuh 12 jam pengasapan panas supaya jaringan ikatnya luruh. Hasilnya dipakai dua kali: Grill Wagyu Burnt Ends Ragey dengan sambal rica hijau, dan Smoked Wagyu Brisket Rica Merah yang dipadukan sambal rica merah, dabu-dabu, plus rempah aromatik. Lemak wagyu dan cabai rica ternyata saling menahan, tidak saling mengalahkan.
Nasi Jaha dan Perkedel Jagung
Lauk pendampingnya justru bagian yang paling menjelaskan konsep. Perkedel jagung khas Manado disandingkan dengan jalapeños salsa, sementara nasi jaha dipanggang sampai wangi sebagai pengganti roti atau kentang.
"Nasi Jaha itu bisa dibilang lemper khas Manado. Jadi kita buat pakai beras ketan, lalu dipanggang dan cocok dimakan dengan daging sampai perkedel jagung," kata Chef Jovan.
Kenapa Kuliner Manado Cocok Bertemu Asap
Sekilas ini pasangan yang dipaksakan, padahal dua tradisi ini punya kerangka yang mirip. Barbecue Amerika bertumpu pada asap, lemak, dan saus asam seperti cuka atau mustard untuk memotong rasa berat. Kuliner Manado bekerja dengan pola serupa: bakar atau asap, lalu ditimpa dabu-dabu dan bumbu gohu yang asam dan pedas. Yang berbeda cuma alat dan nama bumbunya.
Rp60 Ribu sampai Rp180 Ribu, Sepadan?
Rentang harga itu perlu dibaca dengan benar. Angka Rp60.000 kemungkinan besar untuk pendamping seperti perkedel jagung atau nasi jaha, sedangkan Rp180.000 menempel pada porsi wagyu. Untuk brisket wagyu marble score 6+ yang diasap 12 jam di dalam kota, angka itu masih masuk akal — biaya bahan bakar kayu dan susut daging selama pengasapan panjang tidak murah.
Yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang
Acaranya sudah lewat, tapi kedua restorannya jelas tidak pindah. Mata Karanjang buka setiap hari pukul 11.00-22.00 di Kebayoran Baru dengan menu reguler, dan LC Smokehouse tetap melayani brisket, burnt ends, serta sosis wagyu asapnya di Kebon Sirih. Beberapa item kolaborasi seperti ini kadang bertahan sebagai menu musiman kalau permintaannya bagus.
Pantau akun media sosial kedua restoran menjelang akhir tahun, karena kolaborasi dua hari yang laku biasanya diulang dalam format lebih panjang. Kalau kamu penasaran duluan, pesan brisket di LC Smokehouse dan bawa sambal rica sendiri — itu cara termurah menguji apakah perpaduan ini benar-benar bekerja di lidah kamu.
Comments 0