Kuliner Khas Tangerang yang Sudah Buka Sejak 1954
Pemkot Tangerang merilis lima menu untuk libur HUT ke-81 RI, dan dua di antaranya sudah berjualan sejak era 1950-an dan 1960-an.
Kuliner khas Tangerang punya satu hal yang hampir tidak pernah disebut di daftar rekomendasi mana pun: umurnya. Menyambut libur HUT ke-81 RI, Pemerintah Kota Tangerang merilis lima menu yang layak diburu pekan ini, dan dua di antaranya sudah berjualan jauh sebelum sebagian besar pembacanya lahir — Sate H. Ishak sejak 1954, dan Bubur Ayam Spesial Ko Iyo sejak 1966.
Angkanya terasa jauh lebih besar begitu ditaruh di garis waktu. Republik ini baru berumur sembilan tahun ketika gerobak Sate H. Ishak pertama kali mengepul. Artinya warung itu sudah melewati 72 dari 81 tahun kemerdekaan Indonesia — lengkap dengan pergantian rezim, krisis 1998, sampai era orang memesan makanan lewat aplikasi tanpa turun dari motor.
Buat Anda yang libur panjang tapi malas keluar kota, ada alasan praktis untuk peduli: hampir semua nama itu berkumpul di satu titik, yaitu Pasar Lama, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang. Satu porsi laksa di kawasan itu berada di kisaran Rp15.000 sampai Rp25.000, tergantung lokasi dan tambahan lauk. Wisata rasa sekeluarga di sini tidak menuntut anggaran liburan.
Dua Warung yang Umurnya Melebihi Setengah Abad
Sate H. Ishak berdiri pada 1954 dan, menurut Pemkot Tangerang, masih memakai resep yang diturunkan lintas generasi keluarga. Bubur Ayam Spesial Ko Iyo menyusul dua belas tahun kemudian, pada 1966, dan bertahan di kawasan yang sama. Keduanya bukan kedai yang dibuka lalu tutup dalam dua musim; mereka bertahan karena pelanggan kembali, bukan karena viral sepekan.
Pola itu bukan kebetulan. Di Pasar Lama, banyak pedagang menjual dagangan yang sama selama puluhan tahun tanpa mengubah takaran bumbunya. Itulah sebabnya rasa lama masih bisa dicicipi hari ini — sekaligus penjelasan kenapa antrean di beberapa lapak jauh lebih panjang dibanding lapak sebelahnya yang baru buka tahun lalu dengan menu serupa.
Kenapa Laksanya Berkuah Kuning dan Bersantan?
Laksa di sini tidak mirip laksa Singapura atau Penang. Kuahnya santan kental berwarna kuning dari kunyit, isinya bihun, telur rebus, ayam suwir, dan daun kemangi. Kata "laksa" sendiri diserap dari bahasa Sanskerta yang berarti "banyak", merujuk pada jumlah rempah yang masuk ke satu panci. Hidangan ini disebut sudah berkembang di Tangerang selama ratusan tahun.
Laksa Nyai, Racikan Warga Asli Tangerang
Versi pertama diracik warga asli Tangerang memakai rempah dan dedaunan lokal. Pemkot menyebut sentranya berada di sekitar SPBU Babakan Cikokol, agak keluar dari keramaian Pasar Lama. Kalau Anda datang di puncak libur dan tidak sanggup mengantre, arah ini biasanya lebih longgar dan tetap memberi versi yang otentik.
Laksa Nyonya, Versi Peranakan Pasar Lama
Versi kedua lahir dari komunitas Cina Benteng, keturunan Tionghoa peranakan yang sudah lama menetap di Tangerang. Percampuran budaya itu yang membuat rasanya gurih sekaligus berbumbu tajam. Sejak 1970-an, mi laksa dijajakan pedagang keliling dari kampung ke kampung. Kini puluhan penjual berkumpul di Kawasan Kuliner Laksa, Jalan Muhammad Yamin. Pada 2023, laksa Tangerang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Lima Kuliner Khas Tangerang Versi Pemkot
Daftar resmi yang dirilis Pemkot Tangerang menjelang 17 Agustus berisi lima nama, dan semuanya bisa disusuri dalam satu sore berjalan kaki:
- Laksa Tangerang — kuah rempah dengan mi beras, tersedia di Kawasan Kuliner Laksa dan Pasar Lama.
- Sate H. Ishak — di kawasan Pasar Lama, beroperasi sejak 1954.
- Bubur Ayam Spesial Ko Iyo — sejak 1966, cocok untuk sarapan atau makan larut setelah acara tujuh belasan.
- Serabi hijau — jajanan tradisional dengan pilihan kuah pandan dan durian, harganya relatif terjangkau.
- Aneka jajanan Pasar Lama — dari egg roll dan bola ubi sampai camilan kekinian.
Radar Banten menurunkan daftar yang sama pada Minggu (16/8), tanda kawasan ini memang jadi tumpuan warga saat libur panjang, bukan sekadar promosi musiman.
Berapa Uang yang Perlu Disiapkan Sekeluarga
Hitung kasarnya begini. Kalau empat orang masing-masing memesan satu porsi laksa, uang yang keluar untuk menu utama sekitar Rp60.000 sampai Rp100.000. Sisakan dana tunai untuk jajanan, karena banyak lapak kecil melayani lebih cepat dengan uang pas ketimbang menunggu Anda memindai kode QR di tengah antrean yang menumpuk.
Jam Terbaik Datang ke Pasar Lama
Pasar Lama paling sibuk pada malam hari, dan akhir pekan adalah puncaknya — pengunjung bahkan menjalar sampai bantaran Sungai Cisadane. Bedanya nyata di angka dagang: seorang penjual dimsum di kawasan itu menyebut bisa habis 400 porsi pada malam Minggu, dibanding sekitar 150 porsi di hari biasa. Nyaris tiga kali lipat.
Wisata kuliner bisa menjadi pilihan kegiatan bersama keluarga maupun teman selama libur panjang.
Kalimat itu ditulis Radar Banten, dan tahun ini bebannya bakal terasa: 17 Agustus jatuh bersamaan dengan akhir pekan. Kalau Anda membawa anak atau orang tua, datanglah sore sebelum azan magrib saat lapak sudah buka tapi lorongnya belum padat. Kalau justru mengejar suasana ramai, malam Minggu adalah waktunya — siapkan parkir yang jauh dan niat berjalan kaki.
Satu catatan sebelum berangkat: warung legendaris punya kebiasaan tutup lebih cepat kalau dagangan habis, terutama di hari libur nasional. Pastikan Anda mengecek jam buka lewat akun atau nomor kontak masing-masing pedagang di hari H, susun rute dari yang paling tua dulu, dan simpan uang tunai secukupnya. Tujuh puluh dua tahun bertahan bukan jaminan mereka masih buka jam sembilan malam.
Comments 0